Ceritaku

Ceritaku

Hidup memang tak selamanya berjalan seperti air di sungai yang selalu mengalir setiap waktu. Terkadang bahagia, sedih, senang, suka, duka dan berbagai rasa dialami dalam sebuah perjalanan hidup. Namun segala sesuatu yang menimpa diri kita pada hakekatnya baik untuk kita. Tapi kita sering tidak sadar terhadap sesuatu itu spontanitas kita langsung mengambil kesimpulan bahwa itu baik, itu buruk. Padahal kalau kita mau tafakur terhadap suatu kejadian atau suatu masalah maka kita akan menemukan hikmah dari semua itu, kita akan sadar bahwa tidak selamanya kita berjalan dijalanan yang datar. Suatu saat nanti kita akan mengalami apa yang dinamakan berjalan dalam sebuah tanjakan atau turunan. Begitu juga dengan kehidupan sama halnya dengan kita berjalan kadang bahagia, kadang sulit, kadang tenang dsb. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus meratapi keadaan, apakah kita harus pusing, apakah kita harus marah, apakah kita harus prustasi? Jauhilah semua hal-hal tersebut tapi kita harus sadar pasti kita mempunyai dosa atau kesalahan kepada sang kholik. Maka hal yang harus pertama kali kita lakukan adalah bertaubat kita kembalikan segala sesuatu yang menimpa diri kita itu kepada yang menciptakannya. Jika kita sudah bisa berbuat seperti itu insya Allah hati kita akan tenang. Ingat segala permasalahan yang menimpa diri kita itu semua dibuat oleh kita dan kita juga yang sanggup memecahkannya semabari disandarkan hanya kepada Allah.

Disuatu waktu ada seorang wanita yang amat cantik dan pintar dan ada seoarang laki-laki yang amat mencintainya. Namun laki-laki itu mencintainya bukan karena nafsu, tapi cinta dia didasari dengan rasa ikhlas dan semata-mata karena Allah. Dia hanya ingin mendidik, mengarahkan kepada hal-hal yang positif dan bisa memberikan kemanfaatan diwaktu sekarang dan yang akan datang. Tapi apa yang dilakukan wanita itu? Dia mengacuhkan cinta yang tulus itu, dia hanya bisa memendam perasaan yang tidak bermanfaat dimasa yang telah berlalu. Sungguh tak mengerti apa yang dia lakukan seolah-olah dia tidak merasakan apa yang telah diberikan silaki-laki itu, tapi bukan materi yang diberikannya tapi sebuah ajakan, pendidikan juga pengarahan yang dapat membuat dia bahagia dimasa depan nanti. Tapi entah apa yang ada dalam fikirannya seolah-olah dia selalu mengacuhkan kebaikan itu. Namun laki-laki itu terus sabar, sabar dan sabar mengahadapinya karena dia yakin ini diibaratkan sebagai sebuah tanjakan yang suatu saat nanti akan menemui yang namanya turunan. Artinya keadaan buruk dimata manusia pada saat itu merupakan investasi kebahagiaan dimasa depan nanti dia sangat yakin suatu saat nanti akan berbalik keadaan dengan saat ini. Dia hanya tersenyum melihat semua ini seolah-olah kebahagiaan sudah melambaikan tangannya dari kejauhan yang harus diperjuangkan selama dia masih bernyawa.

Untuk mencapai kebahagiaan tidak cukup dengan mengupayakan dari luarnya saja tapi harus diupayakan dengan dalamnya juga yakni dengan sebuah do’a kepada Allah. Perbanyaklah istigfar, hauqolah, lailaha illallah muhammadurrasulullah, tasbih, tahmid, bismillahirrahmanirrahim 313x dalam satu hari dan tanamkan dalam diri kita harus sabar, sadar, tawakal, selamanya kita dzikir kepada Allah, yakinlah kita akan mendapat ketenangan hati dan pastinya kita sukses. Amin ya robbb….

0 komentar: